Rabu, 04 Juni 2014

BENARKAH ISLAM TERSEBAR DENGAN PEDANG ?

Ketika Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa`alihi wasallam meninggal dunia pada tahun 632M. orang-orang Arab tergetar dengan energi dan keyakinan, siap meledak ke panggung dunia. Dipimpin oleh empat Khalifah sejati pertama, Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu`anhum (632-661), mereka berlomba menyebarkan pesan ajaran mereka dengan penuh kegembiraan melintasi banyak wilayah yang kemudian membentang menjadi peradaban (civilization). Dalam beberapa dekade mereka telah sampai ke Spanyol di Barat dan Sind di Timur. Kelihatannya tidak ada yang dapat menghentikan mereka.

Dunia belum pernah melihat ledakan seperti gerakan kaum Muslim awal tersebut. Penaklukan-penaklukan kekaisaran Romawi tampak begitu lambat. Alexander Agung masuk ke Asia secara mengagumkan, tapi Alexander seperti sebuah meteor dan segera setelah dia meninggal kekaisaran Yunaninya berantakan. Umat Muslim membawa sebuah peradaban segar, suatu cara pandang (worldview) dan kehidupan yang baru; mereka datang untuk bertahan.

Untuk menjelaskan ekspansi (perluasan) Islam permulaan yang luar biasa, para pengkritik sering memberi kesan bahwa umat Muslim lebih mengandalkan pedang, Islam tidak akan mempunyai berjuta-juta pengikut di seluruh dunia jika tidak disebarkan dengan menggunakan kekuatan. Para penulis Kristen abad pertengahan melukiskan prajurit-prajurit Muslim dengan pedang di satu tangan dan Qur`an di tangan lainnya. Ini mungkin benar pada beberapa kasus. Akan tetapi, secara keseluruhan ini hanyalah merupakan sebuah stereotype. 

Pada penjelasan berikut akan dijelaskan bahwa Islam tidak disebarkan menggunakan pedang, ini merupakan kekuatan kebenaran, alasan dan logika yang menjadi faktor penyebab berkembangnya Islam dengan pesat.
Pertama adalah sifat ajaran Islam yang tidak rumit dan langsung. Islam menawarkan suatu agama tentang kesederhanaan yang mempesona. Islam tidak memiliki filsafat yang rumit, tidak ada hirarki yang berdasarkan kasta atau kekayaan, tidak ada kependetaan. Pada pokoknya: satu Tuhan dan satu Kitab Suci. Masing-masing Muslim mempunyai akses secara langsung kepada Tuhan dan Kitab Suci serta melalui Kitab Suci tersebut kepada Rasul. Masing-masing mu`allaf--seperti setiap Muslim-- merasa Islam menjadi bagian dirinya. Untuk masuk Islam cukup sederhana; hanya pembacaan pernyataan keyakinan. Kesederhanaan ini yang barangkali menjadi alasan keberhasilan Islam, sebagaimana daya tarik Islam terus berlanjut sampai masa sekarang.
Alasan kedua, popularitas Islam tidak diragukan lagi terletak dalam penekanannya tentang persamaan manusia, Islam tidak membedakan antara yang kuat dan yang lemah, yang miskin dan yang kaya, tuan dan budak, Semuanya sama disisi Tuhan. Satu-satunya kriteria baik buruknya seseorang adalah ketakwaan. warna kulit atau derajat tidak menjadi masalah. Dalam Islam, seseorang dianggap sebagai orang yang terhormat apabila dia memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi terhadap Sang Pencipta, tanpa memandang apakah dia seorang miskin ataukah seorang budak yang hina. Sebaliknya, seseorang akan dianggap sebagai orang yang hina dina apabila dia tidak memiliki ketakwaan kepada Tuhannya, senang melakukan perbuatan maksiat dan keji semisal korupsi, kolusi, menyalahgunakan kekuasaan untuk memenuhi hasrat pribadi dll. Meskipun dia adalah seorang yang kaya raya atau keturunan raja. 
Allah berfirman:

ان اكرمكم عند الله اتقـكم
"Sesungguhnya orang yang paling 
mulia diantara kalian disisi Allah 
adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian".

Bagi orang-orang yang hidup dibawah kerajaan Persia, Byzantine dan Romawi, ajaran Islam datang seperti tiupan angin segar. Sebagian besar kerajaan-kerajaan ini dijalankan dengan hierarki kelas, stratifikasi sosial masyarakat Eropa ketika itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serta kesatria, dan rakyat jelata. Meskipun kelompok yang terakhir ini merupakan mayoritas di dalam masyarakat, tetapi mereka menempati kelas yang paling rendah. Kehidupan mereka sangat tertindas dan terhina; mereka harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-mena dan mereka dibebani berbagai pajak serta sejumlah kewajiban lainnya. Dan pada saat itu pula di Eropa berlaku hukum waris yang menetapkan bahwa hanya anak tertua yang berhak menerima harta warisan. Apabila anak tertua meninggal, maka harta warisan harus diserahkan kepada gereja.   Selain itu prasangka- prasangka sektarian dan kebencian rasial; korupsi dan penindasan adalah tatanan masa itu. Wanita-wanita khususnya memiliki sedikit hak. Perbudakan dipraktekkan, dan hubungan-hubungan keluarga, kelas dan sosial menentukan hak-hak istimewa dan kenaikan pangkat.

Islam Agama Perdamaian

Islam amatlah pantas untuk memperoleh gelar tersebut. Bukan karena penulis adalah orang Islam fanatik yang buta akan realita,  tetapi bukti-bukti nyata yang terpatri dalam sejarah telah mengatakannya.   
Orang-orang Islam adalah tuan rumah negara Arab selama 1400 tahun. Kemudian dalam beberapa tahun, Arab dikuasai oleh Inggris, selanjutnya digantikan oleh Prancis. Secara keseluruhan Muslim menguasai Arab selama 1400 tahun, sedangkan saat ini terdapat 14 ribu penganut Kristen coptic yakni keturunan dari umat Kristen. Jika Muslim menggunakan pedang atau kekuatan untuk menyebarkan agama Islam, maka tidak akan ada seorang Arabpun yang masih menganut agama kristen. Begitu juga di India, orang-orang Islam telah menguasai India selama seribu tahun. Jika mereka berkehendak, Muslim India memiliki kekuatan untuk mengubah setiap orang atau semua non-Muslim di India menjadi pemeluk agama Islam. Semua non-Muslim India saat ini mengakui bahwa Islam tidak disebarkan menggunakan pedang maupun kekuatan. Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia. Mayoritas penduduk Malaysia memeluk agama Islam. Adakah seseorang yang bertanya, "Serdadu Muslim manakah yang datang ke Indonesia dan Malaysia?". Begitu juga dengan Islam yang telah berkembang begitu pesat di pesisir timur Afrika. Seseorang boleh menanyakan jika Islam disebarkan menggunakan pedang, "Serdadu Muslim manakah yang datang menaklukkan daerah pesisir timur Afrika?". Orang-orang Islam telah berhasil menguasai Spanyol selama 800 tahun. Orang-orang Islam di Spanyol tidak pernah menggunakan pedang untuk memaksa orang lain memeluk agama Islam. Kemudian para pengikut perang salib datang dan membantai orang-orang Islam. Tidak seorangpun pemeluk agama Islam di Spanyol yang berani mengumandangkan Adzan.   Pasukan Salib Kristen adalah orang-orang asing yang agresif, bodoh, barbar dan tidak disukai; orang-orang asing yang selamanya membela cara hidup (worldview) mereka dengan percekcokan dan perkelahian; orang-orang asing dengan tingkah laku yang memalukan dan tidak tahu adat. Mereka datang sebagai individu dan kelompok, sebagai prajurit dan sebagai serdadu bayaran;  mereka bersatu untuk memerangi Islam dengan didasari perasaan iri hati melihat kemajuan orang-orang Islam dalam bidang agama, politik dan sosial ekonomi yang jauh mengungguli mereka . 

Umat Muslim bukanlah satu-satunya sasaran mereka; umat Kristen dan Yahudi lokal juga menjadi korban-korban mereka. Dalam satu kejadian dari prilaku mereka ditemukan suatu kedalaman fakta yang baru. Ini terjadi di gereja St. Sophia di Istambul. Mereka memperkosa wanita, minum-minum sampai mabuk, dan menelanjangi orang-orang gereja tersebut. Seorang saksi mata dari pasukan salib keempat sangat terkejut: “Aku Geoffrey de Ville Hardouin, prajurit dari istana Champagne, yakin bahwa sejak terciptanya alam semesta, penjarahan yang lebih buruk daripada kejadian ini belum pernah dialami” (Efe 1987:18).
Mengenai orang-orang Yahudi yang malang, mereka dibantai oleh kaum Kristen dalam perjalanannya menuju Perang Salib dan juga dibantai dalam perjalanan mereka kembali dari Perang Salib. Tidaklah mengherankan, umat Muslim berpikir bahwa di sini suatu peradaban (civilization) mendapat malapetaka dari barbarisme dan keterbelakangan untuk selama-lamanya. Patut diperhatikan bahwa kaum Kristen lokal di Timur Tengah mendukung umat Muslim dalam peperangan mereka melawan Pasukan Salib.
Di pusat Perang Salib berdiri kota Jerusalem, tempat suci bagi umat Muslim, Yahudi dan Kristen. Bersama Mekkah dan Madinah, Jerusalem adalah salah satu dari tiga tempat tersuci bagi umat Muslim, disebut dalam bahasa Arab Baitul Maqdis, Rumah Suci, sering disingkat menjadi Al-Quds. Pentingnya Jerusalem dihubungkan dengan Nabi Muhammad Saw. sendiri, pada perjalanan di malam hari dan kenaikannya ke langit (Surah 17: ayat 1). Nabi Muhammad Saw. naik ke langit dari batu bersejarah di Jerusalem di atas Kubah Batu (the Dome of the Rock), monumen Islam yang paling awal, yang sekarang masih tetap berdiri.  Sejak masa pemerintahan Khalifah Umar Ra. Jerusalem telah berada dalam kekuasaan Islam. Sebagai seorang penakluk beliau menolak bersembahyang di gereja yang telah disediakan bagi umat Muslim yang ingin bersembahyang setelah memperoleh izin dari pendeta-pendeta Kristen. Penguasa-penguasa Muslim Jerusalem sesudah itu berpedoman kepada Umar, kaum Kristen dan gereja-gereja mereka tidak diganggu, dan kaum Yahudi, yang telah lama dilarang tinggal di Jerusalem oleh penguasa-penguasa Kristen, diperbolehkan kembali. Bagaimanapun juga, mereka adalah “ahli-ahli kitab”.

Beberapa abad kemudian, ketika pada tahun 1099 kaum Kristen merebut Jerusalem selama Perang Salib, cerita tersebut sama sekali menjadi berbeda. Mereka tidak hanya membinasakan penduduknya –bahkan wanita dan anak-anak tidak luput- tapi juga merusak tempat-tempat peribadatan, termasuk Tempat Perlindungan yang Mulia (Noble Sanctuary). Kubah Batu diubah menjadi sebuah gereja. Dan masjid Al-Aqsha dinamakan menjadi Kuil Solomon (The Temple of Solomon), menjadi tempat tinggal untuk raja.
Edward Gibbon menjelaskan penaklukan kaum Kristen terhadap Jerusalem”
Suatu pengorbanan berdarah ditawarkan oleh fanatik-fanatik Tuhan yang keliru dari kaum Kristen; perlawanan mungkin membangkitkan kegusaran, tapi bukan umur maupun jenis kelamin yang dapat meredakan kegusaran kepala batu mereka; mereka memperturutkan hati mereka sendiri selama tiga hari dalam suatu pembunuhan besar-besaran tanpa pandang bulu; dan infeksi dari mayat-mayat tersebut menghasilkan penyakit yang menular. Setelah 70.000 umat Muslim telah dibunuh dengan pedang, dan kaum Yahudi yang tidak berbahaya telah dibakar di dalam sinagoge-sinagoge (tempat peribadatan orang Yahudi) mereka, mereka masih bisa mencadangkan banyak tawanan, yang karena kepentingan dan kelemahan mendesak dikecualikan dari pembunuhan.
(Edward Gibbon, dalam Watt 1991: 157).

Bandingkan hal-hal di atas dengan masuknya Nabi Muhammad Saw. sang Penakluk, ketika hendak memberangkatkan serdadu perang untuk menaklukkan kota Makkah; tanah kelahiran dan kota tercinta Beliau, Beliau selalu berpesan kepada para panglima perang agar tidak menyakiti siapapun kecuali orang-orang yang lebih dulu menyakiti mereka. Bahkan begitu mengetahui bahwa salah seorang panglima perang Muslim yang bernama Sa`ad bin Ubadah melontarkan perkataan kasar terhadap Abu Sufyan yang tertawan ketika sedang melakukan misi spionase terhadap pasukan Muslim, Beliau dengan segera mencopot jabatannya sebagai seorang panglima dan memberikan posisi tersebut kepada orang lain. Dan sekali lagi Beliau berpesan kepada balatentaranya agar tidak menyakiti siapapun kecuali orang-orang yang lebih dulu menyakiti mereka.  Nabi Muhammad Saw. memberi jaminan keamanan terhadap utusan yang dikirim oleh pihak kafir untuk menyampaikan pesan-pesan mereka kepada Beliau,  hal ini berbeda sekali dengan kasus pembunuhan al-harits bin `Amir al-Azdy, salah seorang utusan Nabi Muhammad, yang dilakukan oleh pihak kafir.
Bandingkan juga dengan kisah perebutan kembali Jerusalem oleh umat Muslim yang dipimpin oleh Salahuddin Yusuf al-Ayyubi –orang Eropa lebih mengenalnya dengan sebutan Saladin- pada tahun 1187 sebagaimana yang telah tertulis dalam sebuah novel karya Rider Haggard, The Brethren:
 Kemudian Saladin menunjukkan pengampunannya, karena dia membebaskan semua orang tanpa syarat, dan dari harta bendanya sendiri membayar tebusan wanita yang suami-suami dan ayahnya gugur dalam peperangan, atau terpenjara di kota lain.…
Akhirnya perang ini usai, dan Saladin mengambil alih kota tersebut… sebuah kemenangan Pasukan Bulan Sabit mengakhiri kekuasaan Pasukan Salib di Jerusalem, tidak dalam lautan darah, sebagaimana 90 tahun sebelumnya dimana Pasukan Salib memenangkan perang atas Pasukan Bulan Sabit di dalam tembok Jerusalem, tapi dengan apa yang di hari hari itu dianggap sebagai kelemah-lembutan, kedamaian dan pengampunan.
(Haggard 1904: 337).

Perkembangan Agama Di Dunia:

Sebuah artikel dalam Reader`s Digest `Alamac`, pada tahun 1986, memberikan statistik prosentase dari perkembangan agama-agama besar di dunia selama setengah abad sejak tahun 1934 hingga 1984. artikel ini juga terdapat dalam majalah "The Plain Truth". Agama yang menduduki peringkat teratas adalah agama Islam yang berkembang hingga 235%, dan agama Kristen mencapai 47%. Adakah seseorang yang bertanya, "Di manakah tempat terjadinya perang pada abad ini hingga mengubah agama berjuta-juta orang menjadi agama Islam?". Saat ini perkembangan agama tercepat di Amerika adalah agama Islam. Di Eropa Islam juga menjadi agama yang memiliki perkembangan tercepat. Pedang manakah yang telah memaksa orang-orang di negara-negara barat tersebut untuk memeluk agama Islam dalam jumlah yang amat besar?.
Dari beberapa uraian di atas, dengan pikiran jernih dan hati yang bersih kita dapat mengatakan bahwa Islam memang disebarkan dengan pedang, akan tetapi bukan pedang kekerasan melainkan pedang intelektual. Pedang yang menaklukkan hati dan pikiran setiap orang. Al-Qur`an menyebutkan dalam surat An-Nahl ayat 125:

ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة
وجادلهم بالتى هي احسن
"Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar