Di sebuah kedai kopi yang menghadap laut, pikiran saya tiba tiba terseret ke tempat yang tidak saya kenal. Mungkin karena sore itu terlalu tenang. Mungkin juga karena laut selalu pandai memancing orang mengingat sesuatu yang belum tentu pernah terjadi.
Di sudut ruangan, hanya berjarak beberapa meja, duduk seorang lelaki tua. Sejak saya datang, matanya tidak pernah benar benar lepas dari layar laptop di depannya. Sesekali ia memandang laut, lalu kembali kepada layar yang tetap kosong. Mendadak saya melihat air mata jatuh dari matanya. Ia tidak berusaha menyekanya. Air mata itu mengalir begitu saja, seperti hujan tipis yang tidak cukup deras untuk membuat orang berteduh.
Diam diam saya mengamatinya.
Tangannya beberapa kali bergerak menuju papan ketik. Jemarinya menggantung di atas huruf huruf, seolah setiap tombol menyimpan keputusan yang terlalu berat untuk ditekan. Setelah beberapa detik, tangannya kembali turun. Begitu terus berulang. Mengetik tanpa mengetik. Menulis tanpa pernah benar benar memulai.
Saya membayangkan banyak kemungkinan. Barangkali ia sedang menyusun surat yang tidak akan pernah dikirim. Barangkali sedang menulis laporan yang menentukan nasib pekerjaannya. Atau mungkin sedang berusaha mengingat satu kalimat yang hilang bersama seseorang yang pernah dicintainya.
Lalu saya menegur diri sendiri.
Apa urusannya dengan saya.
Saya datang ke tempat itu hanya untuk membiarkan kepala saya kosong.
Dua hari kemudian saya kembali.
Barangkali karena laut tidak pernah benar benar sama, meskipun setiap hari tampak mengulang dirinya sendiri. Kedai itu berdiri di tepi jalan pantura. Dari terasnya, laut terlihat seperti halaman depan rumah yang terlalu luas. Menjelang sore, cahaya matahari jatuh miring di permukaannya. Orang menyebut saat itu senja. Saya lebih suka menganggapnya sebagai waktu ketika siang mulai lupa bahwa ia harus tetap menjadi siang.
Saya selalu menyukai saat seperti itu. Senja tidak pernah menjanjikan apa apa selain kenyataan bahwa semua yang indah mempunyai batas waktunya sendiri.
Aroma kopi memenuhi ruangan ketika saya masuk. Hari itu saya lelah. Pekerjaan menumpuk dan kepala terasa penuh. Saya berharap secangkir kopi dapat membuat pikiran saya kembali menemukan jalan pulang. Kalau beruntung, mungkin saya bisa menulis satu dua puisi untuk seseorang yang sedang saya cintai.
Lalu saya melihat lelaki tua itu lagi.
Ia duduk di tempat yang hampir sama. Laptopnya masih terbuka. Wajahnya masih menyimpan kesedihan yang tampaknya belum selesai.
Saya mulai curiga bahwa mungkin bukan ia yang memilih datang ke kedai itu, melainkan kedai itulah yang memanggilnya.
Beberapa kali ia menyeruput kopi. Setelah itu tangannya kembali melayang di atas papan ketik, berhenti, lalu mundur lagi. Seperti seseorang yang berdiri di tepi sungai tetapi tidak pernah benar benar berani menyeberang.
Entah mengapa, saya merasa sedang melihat seseorang yang kalah bukan oleh hidup, melainkan oleh satu kalimat yang tidak sanggup dituliskannya.
Barangkali karena terlalu lama saya memandanginya, ia tiba tiba menoleh.
Tatapannya membuat saya terdiam. Mula mula tajam, seperti seseorang yang merasa ruang sunyinya dimasuki orang lain. Namun beberapa detik kemudian tatapan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan. Kesedihan. Kesedihan yang begitu tenang sehingga justru terasa lebih menyakitkan.
Air matanya jatuh lagi.
Saya tidak tahan.
Saya bangkit dan menghampirinya.
"Maaf, Bapak sedang menulis apa?"
Ia tampak terkejut, seperti baru sadar ada dunia di luar layar laptopnya.
"Saya sedang menulis cerita pendek."
"Boleh saya membacanya?"
Ia menggeser laptop itu ke arah saya.
"Tentu."
Saya duduk di sampingnya. Karena malas membaca dari awal, saya langsung menuju bagian akhir.
Di sana tertulis:
"Tak ada cinta yang cukup kuat untuk membatalkan takdir. Lelaki itu sedang menuju sebuah kedai tempat kekasihnya menunggu. Namun sebuah truk datang lebih dahulu daripada pertemuan mereka. Sang perempuan menyaksikan sendiri bagaimana orang yang ditunggunya berubah menjadi kenangan, hanya beberapa meter dari tempat ia duduk."
Saya baru selesai membaca kalimat itu ketika suara benturan keras memecahkan sore.
Orang orang serentak berdiri. Kursi bergeser. Cangkir bergetar. Para pelayan dan pengunjung berlari ke arah depan kedai.
Saya ikut berlari.
Di jalan raya sebuah mobil ringsek berada di bawah sebuah truk Fuso. Asap tipis mengepul dari kap mesin yang remuk. Dari tempat saya berdiri, pelat nomornya masih dapat terbaca.
S 222 ARS.
Saya merasa pernah mengenali nomor itu.
Entah dari mana.
Lalu, perlahan, dunia kehilangan bunyinya.
Saya menoleh ke belakang.
Kursi tempat lelaki tua itu duduk kini kosong.
Laptopnya tidak ada.
Cangkir kopinya tinggal setengah.
Dan di layar laptop saya sendiri, yang sejak tadi tersimpan di dalam tas, tiba tiba menyala tanpa saya sentuh.
Di sana hanya ada satu kalimat.
"Paragraf terakhir selalu ditulis lebih dulu. Sisanya hanyalah cara takdir mencapainya."
Sesudah itu saya tidak ingat apa apa lagi.

