Salah seorang penyair kenamaan, Goenawan
Mohammad, dalam salah satu bukunya yang mendedahkan sebuah telaah atas
karya Miguel de Cervantes menyatakan bahwa kisah dalam novel berumur 400
tahun dengan judul Don Quixote merupakan “kisah kocak yang
menyimpan sesuatu yang tak bahagia”. Senada dengan Goenawan, penyair
asal Inggris, Lord Byron juga menyatakan hal yang sama, “Inilah (Don Quixote) cerita paling sedih dari semua cerita. Dan lebih menyedihkan karena ia membuat kita tertawa.”
Di satu sisi, Don Quixote
menggambarkan sebuah kesedihan dan rasa belas kasihan. Namun di sisi
lain, ia memuat kelucuan, ketololan, kekonyolan, dan kegilaan yang
membuat orang tertawa.
Don Quixote adalah sebuah novel
klasik karya Miguel de Cervantes yang menceritakan tentang seorang
lelaki dari salah satu dusun terpencil di Spanyol pada abad 17. Ia
tergila-gila pada buku-buku cerita fiksi tentang kesatria kelana yang
memang sedang laris menemukan pembacanya pada waktu
itu. Kegemarannya pada cerita fiksi tentang kesatria kelana itu
membuatnya terobsesi dan menjadikannya sebagai orang majenun: ia merasa
betul-betul menjadi kesatria kelana yang ke mana-mana menunggang kuda
dengan mengenakan baju zirah. Ia juga berfantasi sedang berpetualang
melawan musuh-musuh imajinernya. Kincir angin dianggapnya raksasa. Ia
menyerang “musuh” itu secara membabi buta.
Apa yang menimpa Don Quixote, meski
terdengar menggelikan hati lantaran tingkah-tingkah konyolnya, tanpa
kita sadari telah banyak menyeruak dan tergambar dalam ekspresi
keagamaan sebagian besar orang hingga hari ini. Ekspresi keagamaan yang
tampak begitu mirip dengan kegilaan Don Quixote. Keduanya sama-sama
membuat imajinasi-imajinasi yang terkadang terlihat menyedihkan, namun
di lain waktu juga terlihat menggelikan.
Kegilaan dan “keimanan” mungkin memang
tampak begitu mirip bagi sebagian orang. Keduanya sama-sama merayakan
kepercayaan pada sesuatu yang tak tampak, sesuatu yang dibayangkan.
Sesuatu yang Devine, Makro-Kosmologi-Teosentris.
Atas nalar tersebut, Robert M. Pirsig, penulis Zen and the Art of Motorcycle yang dikutip oleh seorang ateis tulen, Richard Dawkins dalam bukunya The God Delusion,
dengan jemawa mempersepsikan bahwa “Ketika satu orang menderita delusi,
hal itu disebut kegilaan, dan ketika banyak orang yang menderita
delusi, itu adalah agama.”
Kegilaan dan keimanan, dalam mata Pirsig, ditabalkan memuat “semacam
keterpakuan yang sama”, yaitu keterpakuan pada delusi (khayalan).
Sehingga ia, pelaku/penganutnya, tak bisa membedakan lagi antara
keduanya.
Walaupun tuturan Pirsig memicu
kontroversi, sebab tentu menyangkut keyakinan kita kepada Tuhan yang
kita sakralkan, namun memang semakin tampak nyata di lapangan betapa
ekspresi keagamaan sebagian orang beragama hari ini seruang-sebangun
dengan ekspresi “kegilaan” yang murni delusional itu. Menyedihkan, tapi
begitulah adanya.
Kita bisa saksikan betapa akhir-akhir
ini amat berjubel orang-orang beragama yang gemar memanggungkan mata
yang nanar dan tangan mengepal, menunjukkan kemarahan yang tak pantas
dan bahkan melakukan tindakan destruktif pada apa yang dianggapnya
“musuh” atau “sesat”. Mereka menganggap liyan semuanya adalah
musuh, padahal tentu saja nalar sehat kita memafhumi betapa mereka
sendirilah yang sebenarnya menciptakan musuh dalam tempurung kepala
mereka sendiri. Dalam benak mereka, seolah ada yang mengharuskan mereka
untuk selalu siap siaga menghindari atau bahkan melakukan serangan
kepada liyan. Minimal, memandang universalitas dunia ini dengan penuh rasa curiga.
Tak terhindarkan lalu terbentuklah sebuah conflict-mindset;
cara berpikir yang menganggap dunia dalam suatu konflik, yang dengan
ringan tak masuk akal ditashih dengan klaim-klaim delusional yang miris
sekaligus menggelikan, seperti konspirasi zionis, perang proxy,
kebangkitan komunis, dll. Mereka menciptakan ketakutan-ketakutan pada
diri sendiri dan kemudian memberhalakannya seolah kenyataan yang
mengerikan. Mereka hidup di bawah kungkungan bayang-bayang suatu keadaan
buruk yang sebenarnya tidak ada dan semata hanya khayalan. Sungguh
sebuah delusi yang menghimpit sepenuh jeri!
Sangat mungkin memang, obsesi delusional
itu dipantik oleh kegemaran mereka berpegang teguh pada kitab-kitab
klasik yang ditulis dalam konteks peperangan atas nama agama atau suatu
masa ketika antaragama saling berhadap-hadapan di medan laga, peperangan
yang benar-benar nyata. Konteks itu kemudian mereka elaborasi secara
delusional pada hari ini dan diseret terus ke masa sekarang, yang jelas
sekali sangat jauh berbeda situasinya.
Sungguh menyedihkan dan sekaligus
menggelikan. Alih-alih membela agama, pada kenyataannya mereka hanya
sedang membela obsesi delusional yang tak jauh beda dengan
delusi-personal Don Quixote.
Saling olok, gebrak-gebrak diskriminasi,
menaruh rasa curiga, menjadi bumbu-bumbu utama dalam derap langkah
ekspresi keagamaan mereka. Hidup menjadi terimajinasikan
sedemikian majenunnya: berlaku radikal, merugikan tidak hanya orang
lain, tapi diri sendiri sekaligus. Persis kelakuan Don Quixote.
Don Quixote, novel karya
Cervantes yang ditulis lebih dari 400 tahun lalu, memang dimaksudkan
untuk hal majenun ini. Cervantes alih-alih melawak dengan menampilkan
kekonyolan yang tak terperikan, pada dasarnya ia sedang mengolok-olok
ekspresi keagamaan obsesif-delusional macam begitu yang memang meruah di
masa ia hidup.
Cervantes menulis Don Quixote
pada masa Spanyol sedang membangun tanah air dengan menggunakan dasar
agama Katolik. Spanyol sedang diselubungi oleh aksi-aksi diskriminasi,
purbasangka, bahkan kesewenang-wenangan pada yang bukan Katolik atau liyan.
Gambaran masa demikian rupanya
setali-seuang dengan keadaan kita hari ini. Kita, umat beragama, kembali
terselubungi oleh purbasangka obsesif-delusional pada liyan.
Klaim adanya konspirasi, kebangkitan komunis, dajjal, Yahudi, serbuan
China, dll., menjadi narasi yang amat familier kita dengar hari ini.
Dan, lagi-lagi, itu semua sepenuhnya hanya delusi nan menggelikan.
Celakanya lagi, yang lebih menggelikan,
orang dengan gejala majenun akibat ekspresi keagamaan yang
obsesif-delusional, juga lebih mungkin untuk percaya kepada berita palsu
(hoax). Sebagaimana digambarkan oleh Cervantes, suatu ketika
Sancho Panza, salah seorang petani bodoh yang diajak Don Quixote bermain
dalam dunia imajinasinya dan didaulat sebagai pengawal, mempersembahkan
pada tuannya tiga perempuan peladang yang kasar bicaranya dan buruk
muka. Sancho mengatakan pada tuannya, Don Quixote, bahwa yang ada di
depan matanya adalah Putri Dulcinea yang terkena sihir. Kefasihan tutur
Sancho membuat Don Quixote percaya begitu saja pada apa yang dikatakan
olehnya.
Rawannya orang-orang dengan gejala majenun untuk percaya pada berita palsu (hoax)
sepenuhnya terjelaskan dengan kecenderungan mereka untuk terlibat dalam
pemikiran yang fakir analitis di satu sisi dan sekaligus terdorong
aktif intensif untuk mengabarkan marabahaya-marahabaya yang harus
dihindari padahal itu hanyalah delusi-delusi. Mereka sungguh rawan
“terjebak” dalam khayalan-khayalan saat membaca berita, bersosial media,
sehingga gampang tumbang untuk percaya begitu saja, tanpa meneliti atau
menganalisis terlebih dahulu. Persis benar dengan karakter Don Quixote
yang percaya penuh pada kabar bohong Sancho lantaran imajinasinya
sendiri mengkhayalkan bahwa Dulciniea disihir oleh musuhnya. Ia tidak
bisa menganalisis dengan jernih kualitas apa yang dikabarkan oleh
pengawalnya sendiri.
Don Quixote dengan gaya
olok-olok kepada orang-orang yang berlebihan dalam mengekspresikan
agamanya layak betul untuk kita jadikan pengingat hari ini. Ia relevan
kita jadikan nasihat atas ancaman nyata delusi-delusi obsesif yang
membahayakan dan merugikan harmoni hidup kita. Agama yang asalinya untuk
menebar perdamaian dan rahmat harus kita selamatkan dari
ekspresi-ekspresi obsesif-delusional yang merusak itu. Plus, agar kelak
sejarah tak mencatat kita sebagai bagian dari khazanah peradaban yang
majenun nan menggelikan.
Sudah pasti, satu hal lagi yang harus
kita cermati dengan kritis, yakni banjir ekspansi politisasi agama. Pula
komodifikasi agama. Persis Don Quixote, aktor-aktor ini
dengan sengaja mengeduk keuntungan politis dan ekonomis dari umat yang
tidak kritis. Rasanya, khusus buat aktor-aktor ini, sudah tidak memadai
lagi menyebutnya “kapitalis sejati”, tapi perlu ditambahkan julukan
penguatnya: “para penjual ayat Tuhan yang suci”.
*Sebelumnya pernah dimuat basabasi.co >> https://basabasi.co/kegilaan-dan-kelucuan-beragama-ala-don-quixote/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar